Wakaf Tunai – Perspektif Ekonomi Islam

wakaf tunaiIslam tidaklah hanya mengatur akan Tujuan Penciptaan Manusia, Proses Penciptaan Manusia, atau Hakikat Penciptaan Manusia saja, Konsep Manusia sendiri dalam Islam, sert Hakikat Manusia Menurut Islam, TAPI persoalan wakaf INI juga diatur DI dalam Islam. Wakaf sendiri bukanlah sesuatu yang baru lagi bagi umat Islam. Umat Islam sendiri biasanya mewakafkan harta benda mereka yang tidak bergerak seperti tanah, tapi tidak untuk mewakafkan harta mereka yang tidak tetap atau bergerak. Kebiasaan-kebiasaan tersebut didasari dari perilaku Rasulullah SAW dimana Nabi biasa mewakafkan tanahnya yang termasuk benda kekal serta tidak musnah. Secara etimologi sendiri, wakaf adalah al-habs (menahan), yang berbentuk masdar dari waqfu al-sya’i yang memiliki arti menahan sesuatu.

Di dalam pengertiannya, wakaf ialah mewakafkan tanah pada orang-orang yang miskin untuk ditahan. Atau pengertian lainnya ialah wakaf merupakan sesuatu yang dilakukan dengan tujuan untuk memberi manfaat pada pihak lain serta tidak boleh dipindahtangankan kepada pihak lain. Sedangkan untuk wakaf tunai ialah wakaf oleh seseorang atau sekelompok orang dalam bentuk uang tunai. Pada umum, wakaf tunai merupakan kegiatan menyerahkan aset wakaf yang berupa uang tunai yang tentunya tidak diperkenankan untuk dipindahtangankan maupun dibekukan, mengurangi maupun menghilangkan jumlah pokoknya kecuali digunakan untuk kepentingan umum Wakaf tunai sendiri dianggap sebagai salah satu solusi untuk menjadikan wakaf agar lebih produktif. Karena uang bukanlah hanya sebuah alat tukar-menukar, tapi juga bisa diproduksi ke dalam bentuk manajemen yang bisa membuatnya menjadi lebih berkembang dari sebelumnya. Berikut beberapa prespektif ekonomi Islam mengenai wakaf tunai :

1. Sertifikat wakaf uang, merupakan salah satu konsep dari wakaf tunai yang sifatnya fleksibel. Yaitu hanya dengan mengalokasikan harta yang dimilikinya dalam bentuk wakaf. Wakaf yang satu ini juga tidak membutuhkan jumalh uang besar serta dapat diberikan ke satuan yang kecil. Wakaf yang dilakukan dengan sertifikat sendiri mempunyai beberapa keuntungan, antara lain:
-Sasaran untuk pemberi wakaf menjadi lebih luas
-Sertifikat tersebut nantinya akan dapat dibentuk menjadi beberapa pecahan
-Umat akan lebih mudah untuk berkontribusi tanpa menunggu jumlah yang besar
-Memudahkan par masyarakat kecil dalam menikmati pahala abadi wakaf

2. Modal usaha. Imam Az-Zuhri telah menjelaskan pendapatnya akan wakaf tunai yang berupa dinar serta dirham dapat diwakafkan yaitu dengan cara menjadikan kedua mata uang tersebut untuk dapat dijadikan modal usaha lalu kemudian keuntungannya disalurkan dalam bentuk wakaf.

3. Dana publik. Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya jika wakaf tunai merupakan sebuah wakaf yang dananya dikumpulkan dari masyarakat luas secara sukarela dimana wakaf tersebut nantinya akan dimanfaatkan hanya untuk kepentingan masyarakat. Untuk pengelolaan dana wakaf tunai juga haruslah dilakukan secara profesional, lalu transparan serta harus dapat dipertanggung jawabkan.

4. Pinjaman tanpa biaya. Wakaf tunai sebenarnya tidak hanya berlandasakan pada materi saja, tapi juga pada pemanfaatannya. Bahkan manfaat dari wakaf tunai ini sendiri merupakan unsur pentingnya. Abu Hanifah juga menjelaskan jika wakaf bukanlah hanya terbatas pada berpindahnya sebuah harta saja, tapi juga cukup dengan pemnfaatan akan kegunaan harta pada pihak yang sedang membutuhkan. Wakaf tunai sendiri bisa diambil keuntungannya oleh masyarakat lokal, regional maupun internasional. Investasi yang dilakukan dalam bentuk wakaf tunai bisa dilakukan tanpa mengenal adanya batas negara. Dana wakaf sendiri bisa digunakan untuk mendukung aktivitas tertentu yang bisa dijadikan sebagai sebuah peluang ekonomi alokasi sumber dana pada keuangan pubilk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *